9/11/15

LAPORAN RESMI KLIMATOLOGI ACARA IV MENENTUKAN IKLIM SUATU TEMPAT

ACARA IV
MENENTUKAN IKLIM SUATU TEMPAT
I. PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu dan cuaca menyatakan status atmosfer pada sembarang waktu tertentu. Dua unsur utama iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia ebagai daerah tropis ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar. Oleh karena itu, curah hujan merupakan unsur iklim yang sering diamati dibandingkan suhu. Pada praktikum kali ini data curah hujan dan suhu digunakan untuk menentukan iklim yang diambil dari stasiun meteorologi Karang Ploso ( Batu Malang). Penggolongan iklim ini antara lain menurut Mohr, Schmidt-Fergusson, Oldeman dan Koppen.
B. TUJUAN
1.  Melatih mahasiswa menyatukan berbagai anasir iklim guna penentuan tipe iklim.
2.      Melatih mahasiswa mengetahui dan mengurangi hubungan tipe iklim dengan keadaan tanaman setempat.















II. TINJAUAN PUSTAKA

Iklim merupakan gabungan berbagai kondisi cuaca sehari-hari atau dikatakan iklim adalah merupakan rata-rata cuaca, yaitu harga rata-rata cuaca selama 30 tahun yang merupakan persetujuan internasional. Iklim disusun oleh unsur-unsur yang sama dengan yang menyusun cuaca. Untuk mencari harga rata-rata ini tergantung pada kebutuhan dan keadaan. Hanya perlu diketahui untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan iklim harus mendasarkan pada harga normal, yaitu harga rata-rata cuaca selama 30 tahun. Oleh karena iklim dari suatu tempat disusun oleh unsur-unsur yang variasinya besar, maka hampir tidak mungkin untuk dua tempat mempunyai iklim yang identik. Sebetulnya hampir tidak terbatas jumlah iklim di permukaan bumi ini yang memerlukan penggolongan dalam suatu kelas atau tipe. Perlu diketahui bahwa semua klasifikasi iklim itu buatan manusia sehingga masing-masing ada kebaikannya dan ada keburukannya. Hanya saja yang jelas mereka mempunyai persamaan tujuan yaitu berusaha untuk menyederhanakan jumlah iklim lokal yang tidak terbatas jumlahnya itu menjadi golongan yang jumlahnya relatif sedikit, yaitu kelas-kelas yang mempunyai sifat yang penting yang bersamaan (Wisnubroto, et al., 1983).
Variasi-variasi yang kecil sekalipun dalam sirkulasi umum hampir selalu tercermin dalam perubahan elemen-elemen iklim. Beberapa kawasan mengalami peningkatan curah hujan sedangkan kawasan-kawasan yang lain mengalami musim kering. Tidaklah ada suatu cara yang benar-benar sempurna untuk mengklasifikasikan skala variabilitas iklim yang berbeda. Memang benar bahwa perubahan cuaca dari hari ke hari dengan regim cuaca yang berlangsung lebih pendek adalah merupakan sifat alamiah dari cuaca dan tidak mencerminkan variabilitas iklim. Namun demikian, para pakar klimatologi menganggap beberapa regim cuaca berlangsung lebih lama sebagai suatu bentuk variabilitas iklim (Trewartha, 1995).
Klasifikasi secara empirik dapat dibagi dua yaitu :
  1. Klasifikasi iklim berdasarkan Rational Moisture Budget (Thornthwaite).
Penggolongan iklim ini memasukkan pengertian penguapan, karena menurutnya tumbuhan hidup tidak hanya tergantung pada curah hujan saja, tetapi juga oleh uap air. Apabila penguapan melebihi curah hujan yang jatuh, maka keadaan seperti ini tidak ada gunanya bagi tumbuhan (Sutarno, 1998).
  1. Klasifikasi iklim berdasarkan pertumbuhan vegetasi alami
  1. Mohr
Mohr mengemukakan batasan-batasan baru untuk menunjukkan adanya kekuatan periode kering terhadap tanah dari gambaran curah hujan. Dan pembagian iklim menurut Mohr didasarkan atas banyaknya bulan basah dan bulan kering suatu tempat (Bennet, 1939).
  1. Schmid dan Fergusson
Schmid dan Fergusson mendapatkan bulan basah dan bulan kering bukannya mencari harga rata-rata curah hujan untuk masing-masing bulan tetapi dengan  cara tiap tahun. Adanya bulan basah dan bulan kering dihitung kemudian dijumlahkan untuk dirata-ratakan, untuk mengetahui periode kering di suatu daerah Schmid dan Fergusson menghitung nilai Q didasarkan kriteria kering, cukup dan lembab menurut batasan Mohr. Tetapi karena angka yang digunakan terlampau rendah maka untuk keperluan pertanian hendaknya digunakan secara hati-hati. Hingga saat ini kekeringan masih sulit untuk diberikan batasan yang dapat digunakan untuk semua keperluan pertanian, karena tiap jenis tanah, tanaman dan kondisi iklim tertentu mempunyai batas tertentu pula untuk mencapai tingkat kekeringan (Sutrisno dan Sumiratno, 1983).
  1. Oldeman
Klasifikasi iklim yang dibuat oleh Oldeman menggunakan dasar yaitu bulan basah dan bulan kering yang berturut-turut, kesemua itu dihubungkan dengan kebutuhan air bagi tanaman basah dan palawija. Penentuan bulan basah dan bulan kering oleh Oldeman sedikit berbeda dengan cara yang dilaksanakan oleh Mohr. Perbedaan lain Mohr berdasarkan evaporasi setiap 2 mm sedangkan Oldeman berdasarkan kebutuhan air oleh tanaman padi, sawah basah dan palawija (Sutarno, 1998).
  1. Koppen
Dasar klasifikasi ini adalah rata-rata curah hujan dan temperatur baik bulanan maupun tahunan. Tanaman-tanaman asli dilihat sebagai kenampakan yang terbaik dari keadaan yang sesungguhnya, sehingga batas-batas iklim yang ditentukan dengan batas-batas hidupnya tanaman (Jenny, 1973).

            Maksud suatu pengelompokan iklim ialah penggolongan untuk penyederhanaan, pengertian dan akhirnya pemahaman pola iklim dunia. Penggolongan ini secara otomatis menghasilkan sejumlah tipe iklim. Masalah utama dalam mengembangkan sistem pengelompokan iklim adalah yang berhubungan dengan definisi iklim yang melibatkan banyak unsur. Penggunaan hanya satu unsur iklim belumlah memenuhi persyaratan pengelompokan iklim. Meskipun demikian, distribusi unsur tunggal tersebut di suatu daerah dapat merupakan informasi yang berguna. Sebaliknya, penggunaan semua unsur iklim menghasilkan kerumitan yang malah menyalahi maksud pengelompokan iklim, yaitu kesederhanaan dan kejelasan. Oleh karena itu, biasanya digunakan dua atau tiga unsur iklim (Prawirowardoyo, 1996).
Indonesia yang terletak di antara dua benua, dua lautan luas, berada di sekitar khatulistiwa dalam bentuk gugusan pulau-pulau dikategorikan sebagai wilayah beriklim tropik basah yang isotermik. Penciri utama keragaman iklim di Indonesia adalah curah hujan, kemudian diikuti oleh keragaman suhu dalam kaitannya dengan tinggi tempat dari muka laut (elevasi). Walaupun sebagian besar wilayah Indonesia mendapatkan curah hujan cukup tinggi (>200 m/thn) dengan musim hujan >6 bulan, terdapat juga beberapa daerah kering yang hampir menyamai daerah beriklim semi arid-tropik (SAT), terutama di wilayah  Indonesia bagian timur (NTB dan NTT). Perbedaan curah hujan yang mencolok di beberapa wilayah Indonesia erat kaitannya dengan posisi geografi dan sifat fisiografi wilayah yang mempengaruhi sirkulasi udara global dan regional (angin musim dan lokal) (Bey.A. dan Las .I. 1991).
Suatu cara untuk mengetahui pengaruh iklim pada produksi pertanian, sebelum tanaman tersebut akan ditanam, maka harus menyelidiki dahulu daerah-daerah yang dapat memperoleh hasil yang baik untuk tanaman tersebut agar dapat tumbuh dan menghasilkan, membandingkan daerah-daerah yang sudah menghasilkan dengan baik dari daerah-daerah itu dipelajari iklimnya dan apabila hasilnya baik maka dapat dicari persamaan iklim daerah-daerah tersebut, dan kalau ada daerah yang cocok dengan keadaan iklimnya tetapi belum ada tanaman tersebut atau yang akan dicoba maka baik dipergunakan untuk percobaan (praktek). Cara-cara membandingkan daerah-daerah yang menghasilkan dengan baik yaitu:
Misal :
1. Tebu : Salah satu cara memperoleh persamaan syarat-syarat tumbuhnya tebu, yaitu dengan dibuat diagram mengenai suhu dan curah hujan.
Adapun persamaannya :
    1. Temperatur rata-rata setahun diatas 25 oC – 26 oC
    2. Hujan rata-rata setahun kurang dari 100 cm
    3. Memerlukan periode kering berturut-turut yang panjangnya sampai 3 bulan
  1. Kopi :
Syarat-syarat tumbuhnya :
a.       Temperatur rata-rata setahun kurang dari 25 oC
b.      Jumlah hujan setahun tinggi
c.       Menghendaki periode kering berturut-turut sedikitnya 3 bulan
  1. Karet :
Syarat-syarat tumbuhnya :                                                     
a.       Terletak di daerah tropis
b.      Hujan merata sepanjang tahun
c.       Temperatur antara 25 oC – 27 oC
(Saidja, 1982)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 










III. METODOLOGI

            Praktikum acara IV tentang menentukan iklim suatu tempat dilaksanakan pada Senin, 7 Oktober 2014 di Laboratorium Agroklimatologi Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UGM, dibutuhkan bahan antara lain data curah hujan (CH) bulanan selama 10 tahun di suatu tempat, data rerata suhu udara (T) bulanan, data tinggi tempat, dan data pendukung pola tanam, vegetasi dominan dan tanah.
            Data CH, T dan h digunakan untuk analisis tipe iklim daerah setempat dengan sistem klasifikasi Mohr, Schmidt-Fergusson, Oldeman dan Koppen.
 Pada sistem klasifikasi Mohr, tabel dibuat dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun, CH rerata dan derajat kebasahan bulan (DKB). Semua data dimasukkan ke dalam tabel, kemudian dihitung curah hujan rerata dari bulan-bulan sejenis. Derajat kebasahan bulan masing-masing curah hujan rerata ditentukan, kemudian dimasukkan ke dalam kolom DKB. Dari kolom DKB, dihitung jumlah bulan kering (BK), bulan lembab (BL) dan bulan basah (BB). Selanjutnya dapat ditentukan tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan Mohr.
Pada sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson, tabel dihitung dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun dengan kolom DKB pada setiap kolom tahun. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, DKB tiap data ditentukan dan dimasukkan ke dalam kolom DKB. Dihitung jumlah BK, BL dan BB selama 10 tahun. Kemudian rerata BK, BL dan BB tiap tahun juga dihitung. Nilai Q dihitung dengan rumus :
Q = Rerata BK
        Rerata BB
Dengan demikian, tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan iklim Schmidt-Fergusson dapat ditentukan.
            Pada sistem klasifikasi Oldeman, tabel dibuat dengan kolom-kolom seperti tabel sistem klasifikasi Mohr. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, kemudian DKB tiap data ditentukan menurut kriteria Mohr. Jumlah rerata BK, BL dan BB dihitung ke dalam bentuk angka bulat. Berdasarkan pembulatan tersebut, dapat ditentikan tipe iklim daerah setempat dengan “sistem klasifikasi Agroklimat”.Penentuan tipe iklim menurut kriteria Koppen didasarkan pada rerata suhu dan curah hujan bulanan atau tahunan yang disusun dalam beberapa pernyataan yang disimbolkan dengan beberapa huruf. Dari huruf-huruf tersebut, dapat ditentukan tipe iklim suatu daerah.
            Pada bab pembahasan, perlu adanya uraian-uraian beberapa pendapat tentang masing-masing klasifikasi yang telah ditentukan. Jika menggunakan acuan perlu dicantumkan daftar pustaka. Masing-masing klasifikasi dibandingkan baik kelebihan maupun kekurangannya. Kemudian diuraikan mengenai kesesuaian antara hasil analisis dengan keadaan tanaman setempat ditinjau dari vegetasi dominan, pola tanam, tanah, keadaan irigasi, dan tinggi tempat. Antara rerata T tahunan dengan T Braak dibandingkan dan dihitung secara empiris.

Bahan dan Alat

  1. Data curah hujan (CH) bulanan selama 10 tahun di suatu tempat yaitu di suatu tempat.
  2. Data rerata suhu udara (T) bulanan.
  3. Data tinggi tempat.
  4. Data pendukung pola tanam, vegetasi dominan dan tanah.

Metode Kerja

Data CH, RH dan T untuk menganalisis tipe iklim daerah setempat, menggunakan sistem klasifikasi Mohr, Schmidt-Ferguson, Oldeman dan Koppen.

Sistem Klasifikasi Mohr

    1. Dibuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH pertahun, CH rerata dan derajad kebasahan bulan (DBK).
    2. Semua data dimasukkan ke tabel, hitunglah CH rerata dan bulan-bulan sejenis.
    3. DBK masing-masing CH rerata ditentukan, masukkan ke kolom DBK.
    4. Dan kolom DBB, dihitung jumlah bulan kering (BK), bulan lembab (BL) dan bulan basah (BB).
    5. Tipe iklim di daerah setempat ditentukan menurut penggolongan iklim Mohr.

Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson

    1. Dibuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH pertahun dengan kolom DKB pada setiap kolom tahun.
    2. Semua data dimasukkan ke tabel, DKB tiap data ditentukan dan dimasukkan ke kolom DKB.
    3. Dihitung jumlah BK, BL dan BB selama 10 tahun.
    4. Dihitung rerata BK, BL dan BB tiap tahun.
    5. Dihitung nilai Q dengan menggunakan rumus :
Q =  
    1. Tipe iklim daerah setempat ditentukan menurut penggolongan iklim Schmidt- Ferguson.

Sistem Klasifikasi Oldeman

a.         Dibuat tabel dengan kolom-kolom seperti tabel sistem klasifikasi Mohr.
b.         Semua data dimasukkan ke dalam tabel, DKB tiap data ditentukan menurut kriteria Oldeman.
c.         Dihitung jumlah rerata BK, BL dan BB selama 10 tahun.
d.        Dibulatkan harga rerata BK, BL dan BB ke dalam bentuk angka bulat.
e.         Berdasarkan pembulatan tersebut, tipe iklim daerah setempat ditentukan menggunakan “sistem Klasifikasi Agroklimat”.

Sistem Klasifikasi Koppen

a.         Dibuat uraian tentang masing-masing klasifikasi.
b.         Dibandingkan masing-masing sistem klasifikasi baik kelebihan maupun kekurangannya.
c.         Diuraikan kesesuaian antara hasil analisis dengan keadaan tanaman setempat dari vegetasi dominan, pola tanam, tanah, keadaan irigasi, dan tinggi tempat.
d.        Dibandingkan antara T braak dengan rerata T tahunan yang dihitung secara empiris.





























IV. HASIL PENGAMATAN
Nama Stasiun : Karang Ploso (Batu Malang)
Letak lintang   : 7° LS
Elevasi             : 720 mdpl
Tabel4.1. Data curah hujan (mm)
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
Nov
Des
1998
90
262
357
129
36
28
20
0
0
106
147
172
1999
129
410
286
333
132
57
16
5
18
78
277
298
2000
245
326
307
134
57
31
10
0
0
23
275
387
2001
247
225
356
330
32
67
2
0
25
90
227
255
2002
425
433
323
120
45
40
18
7
2
87
198
287
2003
195
237
219
117
62
53
23
12
3
42
134
299
2004
326
307
234
143
67
50
5
1
0
10
257
234
2005
290
206
115
175
87
24
7
10
12
142
300
304
2006
354
329
268
19
12
7
0
0
0
5
121
359
2007
87
274
359
397
53
55
7
0
18
78
242
270

1.      Sistem klasifikasi Mohr
Mohr melakukan klasifikasi berdasarkan curah hujan dengan melihat derajat kebasahan suatu bulan.
Bulan kering (BK)  : bulan dengan CH < 60 mm.
Bulan lembab (BL) : bulan dengan CH 60 mm < CH > 100 mm
Bulan basah (BB)   : bulan dengan CH > 100 mm
Tabel4.2. Jenis Bulan Berdasarkan Klasifikasi Mohr
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
Nov
Des
1998
90
262
357
129
36
28
20
0
0
106
147
172
1999
129
410
286
333
132
57
16
5
18
78
277
298
2000
245
326
307
134
57
31
10
0
0
23
275
387
2001
247
225
356
330
32
67
2
0
25
90
227
255
2002
425
433
323
120
45
40
18
7
2
87
198
287
2003
195
237
219
117
62
53
23
12
3
42
134
299
2004
326
307
234
143
67
50
5
1
0
10
257
234
2005
290
206
115
175
87
24
7
10
12
142
300
304
2006
354
329
268
19
12
7
0
0
0
5
121
359
2007
87
274
359
397
53
55
7
0
18
78
242
270
2388
3072
2824
1897
583
412
108
35
78
562
2178
2874
Rerata
238,8
307,2
282,4
189,7
58,3
41,2
10,8
3,5
7,8
56,2
217,8
287,4
DK
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB

Jumlah BB = 6
Jumlah BK = 6
Jumlah BL = 0

Keterangan :
Menurut Mohr, pada stasiun Karang Ploso (Batu Malang ) termasuk iklim golongan II yaitu kering,
2.      Sistem Klasifikasi Schmidt dan Ferguson
Tabel4.3. Jenis Bulan Berdasarkan Klasifikasi Schmidt dan Ferguson
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Ags
Sep
Okt
Nov
Des
Σ BB
Σ BK
Σ BL
1998
BL
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB
BB
6
5
1
1999
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BL
BB
BB
7
3
2
2000
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB
6
6
0
2001
BB
BB
BB
BB
BK
BL
BK
BK
BK
BL
BB
BB
6
3
2
2002
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BL
BB
BB
6
5
1
2003
BB
BB
BB
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB
6
5
1
2004
BB
BB
BB
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB
6
5
1
2005
BB
BB
BB
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BB
BB
BB
7
4
1
2006
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB
5
7
0
2007
BL
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BK
BL
BB
BB
5
5
2
Jumlah
60
48
11
Rerata
6
4,8
1,1
Q =  =0,8

Keterangan :
Berdasarkan besar rasio yang diketahui, daerah Karang Ploso termasuk dalam iklim golongan D (0,6<CH<1) yaitu daerah sedang, vegetasi hutan musim.
3.      Sistem klasifikasi Oldeman
Kriteria derajat kebasahan bulan menurut Oldeman sebagai berikut :
Bulan basah (BB)   : bulan dengan CH > 200 mm
Bulan lembab (BL) : bulan dengan CH 100 < CH > 200 mm
Bulan kering (BK)  : bulan dengan CH < 100 mm





Tabel4.4. Klasifikasi Oldeman
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
Nov
Des
1998
90
262
357
129
36
28
20
0
0
106
147
172
1999
129
410
286
333
132
57
16
5
18
78
277
298
2000
245
326
307
134
57
31
10
0
0
23
275
387
2001
247
225
356
330
32
67
2
0
25
90
227
255
2002
425
433
323
120
45
40
18
7
2
87
198
287
2003
195
237
219
117
62
53
23
12
3
42
134
299
2004
326
307
234
143
67
50
5
1
0
10
257
234
2005
290
206
115
175
87
24
7
10
12
142
300
304
2006
354
329
268
19
12
7
0
0
0
5
121
359
2007
87
274
359
397
53
55
7
0
18
78
242
270
2388
3072
2824
1897
583
412
108
35
78
562
2178
2874
Rerata
238,8
307,2
282,4
189,7
58,3
41,2
10,8
3,5
7,8
56,2
217,8
287,4
DK
BB
BB
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BK
BK
BB
BB

Jumlah BB = 5
Jumlah BK = 6
Jumlah BL = 1

Segitiga Iklim Oldeman




Keterangan :
Menurut Oldeman, pada stasiun Karang Ploso (Batu Malang ) termasuk iklim golongan zona D sub divisi 3.
4.      Sistem klasifikasi Koppen
T bulan terdingin = ….
CH bulan terkering = 1 mm
curah hujan terkering  <  60mm maka iklim hujan tropika, dengan tipe iklim Aw
Pada system  klasifikasi dapat dilihat bahwa curah hujan bulan terkering adalah 1mm, dikarenakan curah hujan terkering  <  60mm maka iklim hujan tropika, dengan tipe iklim Aw.

Perhitungan
Curah hujan terkering  </>98,5 – R/25
1mm </> 98,5-(1701,1 / 25)
1 <  30,456

































V.PEMBAHASAN
Klasifikasi Iklim dibagi menjadi dua yaitu klasifikasi genetis dan klasifikasi empirik. Dalam praktikum ini klasifikasi iklim yang akan digunakan adalah klasifikasi empirik. Klasifikasi empirik dibagi menjadi dua yaitu klasifikasi berdasarkan klasifikasi berdasarkan Moesture Budget (Thornthwaite) dan Klasifikasi berdasarkan pertumbuhan vegetasi alami. Sedangkan yang akan dibahas dalam praktikum ini adalah klasifikasi berdasarkan pertumbuhan vegetasi alami. Diantaranya klasifikasi Mohr, Schmidt and Fergusson, Oldeman, dan Koppen.
Sistem Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan. Pada hasil pengamatan klasifikasi Mohr didapatkan daerah Karang Ploso (Batu Malang) termasuk golongan iklim ke IV,dimana periode keringnya terjadi selama 6 bulan yang menandakan musim kering mulai nyata. Hal ini disebabkan setelah periode bulan basah (Mei – Oktober) merupakan bulan kering sehingga dapat disimpulkan musim kering terlihat nyata. Klasifikasi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode Morh yaitu pengklasifikasian iklim hanya didasarkan pada penguapan dan besarnya curah hujan. Sehingga cara ini cukup praktis untuk mengamati iklim suatu daerah selama 10 tahun. Data curah hujan bulanan dapat juga dijadikan acuan pergeseran iklim tiap bulan. Kekurangan dari metode pada pengklasifikasian didasarkan hanya rata-rata bulanan sehingga kurang sesuai untuk memberi gambaran secara sempurna mengenai keadaan iklim Indonesia, selain itu tidak mengikutsertakan sifat fisik suatu tanah yang dapat juga memberi pengaruh pada penentuan iklim. Selain itu metode klasifikasi ini, tidak dapat diketahui pergeseran iklim tiap tahun, sebab dasar penentuannya hanya dari curah hujan sehingga hanya dapat digunakan untuk menentukan iklim dengan curah hujan stabil dan periodik.
       Sistem Klasifikasi Schmitd dan Fergusson, merupakan metode yang memiliki kesamaan dengan sistem klasifikasi Mohr. Metode Schmitd-Fergusson didasarkan pada bulan kering dan bulan basah. Berdeda dengan Mohr yang mencari bulan basah dan bulan kering melalui harga rata-rata curah hujan untuk setiap bulan, sedangkan Schmitd-Fergusson pencariannya bulannya untuk masing-masing satu tahun. Hasil yang di dapat dari perhitungan data dari stasiun Karang Ploso (Batu Malang). Rerata bulan basah tahun 1998 sampai 2007 berjumlah 6, bulan kering 4,8 dan bulan lembab 1,1.  Berdasarkan rasio perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil 0,8 hal ini menunjukkan pada daerah tersebut termasuk dalam iklim golongan D, dimana nilai Q yang di dapat > 0,6 dan < 1, pada golongan ini termasuk dalam daerah beriklim sedang dengan vegetasi hutan musim. Kelebihan sistem klasifikasi ini adalah mengetahui pergeseran iklim setiap tahun, mempermudah pengamatan dalam melihat kapan terjadinya bulan kering dan bulan basah. Kekurangan klasifikasi ini, adalah kriteria untuk bulan basah ataupun bulan kering untuk beberapa wilayah terlalu rendah, hal ini akan terjadi kesulitan dalam mengelompokan bulan kering dan bulan basah pada suatu daerah. Secara umum klasifikasi ini banyak dipakai di bidang perkebunan dan kehutanan.
       Sistem klasifikasi menurut Oldeman. Oldeman memakai dasar unsur curah hujan dalam hubungannya dengan kebutuhan air tanaman, tanaman yang digunakan adalah tanaman semusim yaitu padi dan palawija. Selain itu Oldeman juga menggunakan penggolongan iklim seperti sistem klasifikasi Mohr dan Schmitd-Fergusson. Hanya saja terdapat perbedaan penentuan batas curah hujan. Pada metode Oldeman, bulan basah mempunyai curah hujan sekurang-kurangnya 200 mm, bulan lembab mempunyai curah hujan 100-200 mm, dan bulan kering mempunyai curah hujan kurang dari 100 mm. Sistem klasifikasi Oldeman ini dibantu dengan menggunakan ”Segitiga Agroklimat”. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bulan basah berjumlah 3, bulan kering 6, dan bulan lembabnya 1. Dalam penggolongan menggunakan bantuan segitiga agroklimat daerah tersebut termasuk dalam zona D. Dimana daerah tersebut memiliki jumlah bulan basah berurutan sebanyak 3-4 bulan.
Gambar 4.1 Segitiga Agroklimat
            Nilai BB, BK, dan BL yang didapat saling ditarik garis lurus, sehingga akan ditemukan satu titik potong pada zona tertentu yang menunjukkan subdivisi dari klasifikasi Oldeman. Pada gambar ditunjukkan bahwa titik potong terdapat pada subdivisi ketiga dimana periode bero atau masa mengistirahatkan lahan 1-2 bulan, tidak dapat dihindari namun penanaman dua jenis tanaman secara bergantian masih mungkin bisa dilakukan.
       Sistem klasifikasi iklim oleh Oldeman juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu pada caranya sudah lebih maju dibanding dengan cara-cara sebelumnya pada klasifikasi Morh dan Schmitd-Fergusson. Hal ini disebabkan sistem Oldeman sudah mempertimbangkan unsur cuaca yang lain seperti radiasi matahari yang dihasilkan dengan kebutuhan air oleh tanaman (Transpirasi-Evaporasi). Sehingga manfaat yang diadapt yaitu sudah dapat memperkirakan pola tanam dengan keterkaitan antara iklim dan tanaman. Sedangkan, kekurangannya adalah sistem ini menjadikan curah hujan sebagai salah satu indikatoe pentingnya. Sehingga, akan terdapat banyak kesulitan dan kendala dalam menentukan wilayah yang mempunyai 4 musim. Selain itu, sistem klasifikasi ini belum dapat menjelaskan pergeseran iklim bulanan.
       Sistem Klasifikasi Koppen, merupakan sistem klasifikasi iklim berdasarkan rerata suhu dan curah hujan bulanan atau tahunan. Indikator yang digunakan adalah curah hujan, radiasi matahari (suhu udara), dan kesesuaian lahan. Curah hujan pada sistem Koppen ini diperoleh dengan merata-ratakan jumlah curah hujan yang terjadi setiap bulannya. Sistem klasifikasi iklim Koppen juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan sistem klasifikasi ini adalah terletak dalam penyusunan simbol-simbol tipe iklim yang dengan tepat merumuskan sifat dan curah masing-masing tipe iklim dengan tanda yang terdiri dari kombinasi beberapa huruf saja yang dapat dengan tepat merumuskan sifat dan corak iklim suatu wilayah. Sedangkan, kekurangan sistem klasifikasi iklim ini adalah jika diterapkan di Indonesia, sistem ini kurang dapat menggambarkan kondisi detail iklim Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya perbedaan curah hujan wilayah-wilayah di Indonesia. Walaupun, suhu udara tahunannya sama sepanjang tahun.
Klasifikasi iklim empirik dikembangkan sebagai bentuk analisis iklim lanjut terhadap klasifikasi iklim genetik. Klasifikasi iklim ini lebih menitikberatkan pada keadaan unsur-unsur iklim, atau beberapa karakter alam yang berpengaruh terhadap keadaan iklim suatu daerah. Metode klasifikasi ini memberikan hasil analisis iklim yang lebih akurat dan lebih dapat menggambarkan iklim suatu daerah dengan tepat. Sebagai contoh, dibandingkan dua daerah dengan jenis iklim yang sama menurut klasifikasi iklim secara genetik. Jika kedua daerah ini memiliki persebaran curah hujan yang berbeda, maka dua daerah ini akan dikatakan memiliki jenis iklim empirik yang berbeda pula. Ini dikarenakan perbedaan persebaran curah hujan akan menyebabkan perbedaan kondisi lingkungan terutama pada lamanya suatu daerah mengalami kekeringan, yang akan menyebabkan perbedaan pada bagaimana tumbuhan beradptasi terhadap kekeringan tersebut. Perbedaan tersebut tentu akan berpengaruh pula terhadap komposisi vegetasi atau tanaman budidaya yang cocok dengan keadaan lingkungan pada setiap daerah. Akan tetapi, penggunaan unsur-unsur iklim yang beragam sebagai parameter klasifikasi akan menghasilkan wilayah iklim yang lebih sempit daripada klasifikasi iklim genetik. Selain itu, hal tersebut juga memungkinkan klasifikasi iklim empirik memiliki kompleksitas yang cukup besar. Untuk mencegah hal tersebut, klasifikasi iklim empirik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu klasifikasi iklim berdasarkan rational moisture budget yang dikembangkan oleh Thornthwaite, dan klasifikasi iklim berdasarkan pertumbuhan vegetasi alami.
Pada klasifikasi iklim Thornthwaite, kelembaban menjadi penentu dalam penggolongan jenis iklim suatu daerah. Ini dapat dilihat dari penggunaan data evapotranspirasi potensial dan moisture budget yang berhubungan langsung dengan kelembaban tanah dan udara. Semakin tinggi evapotranspirasi menunjukkan semakin tinggi pelepasan uap air ke udara oleh tumbuhan dan lingkungannya. Jika terjadi hujan, banyaknya uap air yang dilepaskan akan kembali ke lingkungan dan diserap oleh tanah menjadi kadar lengas. Namun, kadar lengas ini akan cenderung berkurang dengan tingginya potensi lingkungan untuk melepaskan uap air ke udara. Maka, semakin tinggi potensi evapotranspirasi daerah, semakin kecil indeks kelembaban daerah tersebut, dan semakin kering iklim daerah tersebut. Untuk daerah tandus atau daerah dengan curah hujan yang rendah, analisis iklim dengan tipe klasifikasi iklim Thornthwaite akan berpotensi cukup besar dalam menimbulkan kesalahan atau ketidaktelitian, begitu pula dengan daerah yang basah atau bercurah hujan tinggi. Ini dikarenakan pada daerah bercurah hujan rendah, akan diperoleh data evapotranspirasi yang bernilai besar, sedangkan pada daerah bercurah hujan tinggi akan sulit mendapatkan nilai evapotranspirasi. Kedua hal tersebut akan menyulitkan dalam analisis dengan tipe klasifikasi ini.
Metode lain yang dapat diterapkan dalam klasifikasi iklim empirik adalah pengklasifikasian berdasarkan pertumbuhan vegetasi alami. Terdapat beberapa tipe klasifikasi berdasarkan vegetasi alami yang telah banyak digunakan, seperti klasifikasi Mohr, Schmidt-Ferguson, Oldeman, dan Koppen. Telah diketahui bahwa tumbuhan memiliki daya adaptasi terhadap kekeringan yang berbeda-beda. Daya adaptasi ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Pada sistem klasifikasi ini, pengamatan terhadap pertumbuhan vegetasi alami dilakukan melalui analisis data panjang periode basah dan panjang periode kering, yang dapat diketahui dari persebaran curah hujan dalam rentang waktu tertentu. Data yang menjadi bahan analisis dalam klasifikasi ini biasanya berupa data curah hujan bulanan, yang telah terangkum sebagai data tahunan atau data puluhan tahun. Dengan mengetahui panjang periode basah dan periode kering, dapat diprediksikan bagaimana pertumbuhan vegetasi alami pada suatu daerah, yang kemudian menjadi dasar klasifikasi iklim ini. Jika diperhatikan, klasifikasi Mohr, Schmidt-Ferguson, dan Oldeman memiliki satu kesamaan dalam penggunaan perbandingan jumlah bulan basah (bulan ketika curah hujan tinggi), bulan lembab (bulan ketika curah hujan sedang), dan bulan kering (bulan ketika curah hujan rendah). Dalam klasifikasi Mohr dan Schmidt-Ferguson, derajat kebasahan bulan yang digunakan adalah di atas 100 mm untuk bulan basah, di antara 60 mm sampai 100 mm untuk bulan lembab, dan di bawah 60 mm untuk bulan kering. Sementara itu, derajat kebasahan bulan dalam klasifikasi Oldeman adalah di atas 200 mm untuk bulan basah, di antara 100 sampai 200 mm untuk bulan lembab, dan di bawah 100 mm untuk bulan kering.
Perbedaan untuk setiap metode klasifikasi tersebut terletak pada analisis data curah hujan bulanan untuk menentukan jenis iklim suatu daerah. Pada klasifikasi Mohr, penggolongan iklim murni didasarkan pada persebaran bulan basah, bulan lembab, dan bulan kering. Dari penggolongan ini didapatkan lima golongan iklim yaitu:
1.      Golongan I: daerah basah, dengan persebaran bulan basah yang merata pada 9 – 12 bulan dalam satu tahun, tidak ditemukan bulan kering, dan hanya terjadi bulan lembab pada 1 – 6 bulan dalam setahun.
2.      Golongan II: daerah agak basah, ada satu bulan kering yang diikuti 9 – 10 bulan basah, dan diikuti 1 – 2 bulan kering lain, dapat dikatakan periode basah yang panjang terjadi hampir sepanjang tahun dan hanya diputus oleh 1 – 3 bulan kering.
3.      Golongan III: daerah agak kering, periode kering mulai meluas hingga 3 – 4 bulan dalam satu tahun.
4.      Golongan IV: daerah kering, periode kering terjadi hingga 6 bulan, dapat dikenali gejala akan terjadinya musim kemarau.
5.      Golongan V: daerah sangat kering, dengan periode kering yang panjang dan kuat.
Klasifikasi Schmidt-Ferguson menggunakan data curah hujan bulanan dengan derajat kebasahan yang sama dengan klasifikasi Mohr. Akan tetapi, penggolongan iklim tidak didasarkan pada persebaran bulan basah, bulan lembab, dan bulan kering secara utuh. Penggolongan iklim pada klasifikasi Schmidt-Ferguson didasarkan pada perbandingan rerata jumlah bulan kering dengan bulan basah untuk beberapa tahun tertentu. Perbandingan ini selanjutnya disimbolkan dengan Q. Perhitungan tersebut menghasilkan delapan golongan iklim, yang dilengkapi dengan kemungkinan jenis vegetasi yang terdapat pada daerah tersebut. Kedelapan golongan iklim tersebut yaitu:

1.      Golongan A: daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropis, nilai Q yang diperoleh di antara 0 sampai 0,143.
2.      Golongan B: daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropis, nilai Q yang diperoleh di antara 0,143 sampai 0,333.
3.      Golongan C: daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba dengan beberapa tumbuhan bersifat deciduous atau menggugurkan daun selama periode kering, nilai Q yang diperoleh di antara 0,333 sampai 0,6.
4.      Golongan D: daerah sedang dengan vegetasi hutan musim, nilai Q yang diperoleh di antara 0,6 sampai 1.
5.      Golongan E: daerah agak kering dengan vegetasi sabana, nilai Q yang diperoleh di antara 1 sampai 1,67.
6.      Golongan F: daerah kering dengan vegetasi sabana, nilai Q yang diperoleh di antara 1,67 sampai 3.
7.      Golongan G: daerah sangat kering dengan vegetasi hutan ilalang, nilai Q yang diperoleh di antara 3 sampai 7.
8.      Golongan H: daerah luar biasa kering, nilai Q yang diperoleh di atas 7.
Klasifikasi iklim Oldeman kembali menggunakan persebaran bulan basah, bulan lembab, dan bulan sedang sebagai parameter dalam penggolongan iklim. Perbedaan klasifikasi ini dengan klasifikasi Mohr selain terletak pada derajat kekeringan bulan yang digunakan, adalah klasifikasi Oldeman memerhatikan adanya bulan basah yang berurutan dalam satu tahun. Semakin banyak jumlah bulan basah yang berurutan yang dialami suatu daerah dalam satu tahun, maka iklim daerah tersebut akan semakin basah. Dalam klasifikasi Oldeman, syarat penanaman dalam pertanian mulai diperhatikan, dan dijadikan salah satu parameter penggolongan iklim. Dengan mengetahui penggolongan iklim menurut Oldeman ini kita dapat menuntukan waktu penanaman yang cocok bagi suatu tanaman untuk mengurangi kerugian akibat anomali iklim. Dengan metode tersebut, Oldeman menggolongkan zona iklim dengan bantuan Segitiga Agroklimat, menurut jumlah bulan basah yang berurutan menjadi 5 tipe iklim, yaitu :
1.      Zona A      : daerah dengan 9 – 12 bulan basah berurutan.
2.      Zona B      : daerah dengan 7 – 8 bulan basah berurutan.
3.      Zona C      : daerah dengan 5 – 6 bulan basah berurutan.
4.      Zona D      : daerah dengan 3 – 4 bulan basah berurutan.
5.      Zona E      : daerah dengan kurang dari 3 bulan basah berurutan.
Zona-zona di atas masih dibagi dalam beberapa sub divisi yang ditentukan oleh jumlah                   bulan kering berurutan sepertti di bawah in:
1.      Sub divisi 1 dengan BK 2 dan periode tanam 11- 12 bulan memungkinkan untuk penanaman pangan sepanjang tahun.
2.      Sub divisi 2 dengan BK 2-3 dan periode tanam 9-10 bulan, penanaman memerlukan perencanaan teliti untuk penanaman sepanjang tahun.
3.      Sub divisi 3 dengan BK 4-6 dan periode tanam 3-5 bulan, pada sub divisi ini periode bero tidak dapat dihindari namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan.
4.      Sud divisi 4 dengan BK 7 dan periode tanamn 3 bulan, penanaman dilakukan tanpa tambahan air (irigasi), tidak sesuai untuk tanaman pangan.
Klasifikasi Koppen tidak lagi menggunakan derajat kebasahan sebagai parameter penggolongan iklim, tetapi ia mendasarkan pada rerata suhu dan curah hujan bulanan atau tahunan. Rerata suhu dapat dianggap sebagai efek dari keadaan beberapa unsur iklim yang terjadi di daerah tersebut. Rerata suhu yang tinggi dapat diakibatkan oleh curah hujan yang rendah, atau minimnya vegetasi. Vegetasi alami, terutama tumbuhan tingkat tinggi, dapat beperan sebagai penghalang bagi naiknya uap air hasil evapotranspirasi ke udara. Uap air yang “terperangkap” di antara vegetasi ini dapat meminimalisir efek panas yang ditimbulkan dari insolasi matahari, sehingga rerata suhu pada daerah dengan vegetasi alami yang masih terjaga dengan baik cenderung lebih rendah. Selain sebagai efek, rerata suhu juga dapat mengindikasikan kemungkinan-kemungkinan keadaan unsur iklim lain seperti evapotranspirasi dan kelembaban, yang menjadi dasar klasifikasi Thornthwaite. Dengan menggunakan rerata suhu sebagai parameter klasifikasi, klasifikasi Koppen dapat dikatakan sebagai pengembangan dari metode-metode klasifikasi empirik yang sebelumnya. Keunikan dari klasifikasi Koppen adalah adanya pengkodean tipe iklim yang dapat mewakili hampir seluruh sifat dan corak dari setiap jenis iklim. Kode atau simbol yang diberikan berupa kombinasi beberapa huruf, dengan huruf pertama menyatakan tipe utama, huruf kedua menyatakan pengaruh curah hujan, huruf ketiga menyatakan suhu udara, dan huruf keempat menunjukkan ciri-ciri lain untuk jenis-jenis iklim tertentu. Dengan sistem pengkodean ini, klasifikasi Koppen dapat mendeterminasi hampir semua jenis iklim hanya dengan berpatokan pada penggabungan antara klasifikasi iklim secara genetik dan curah hujan, melalui pengaruh yang ditunjukkan dengan rerata suhu sebagai parameter utamanya.
Indonesia terletak pada daerah tropis, yang menyebabkan seluruh daerah di Indonesia menerima insolasi matahari maksimal sepanjang tahun. Akan tetapi, karakter topografis Indonesia yang beragam membuat setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing. Beberapa daerah di Indonesia mungkin memiliki curah hujan yang tinggi, vegetasi alami yang lebat, dan karakter tanah yang memungkinkan untuk penanaman berbagai jenis komoditas pertanian, tetapi terdapat pula daerah yang sangat kering bahkan mengalami kesulitan dalam memperoleh air. Untuk mengetahui jenis-jenis iklim setiap daerah di Indonesia, dibutuhkan metode analisis dan klasifikasi yang mampu mencakup berbagai karakter seluruh daerah di Indonesia. Metode tersebut diharapkan mampu memberikan hasil analisis yang akurat jika diterapkan pada deaerah yang memiliki ekstrimitas tertentu. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, metode klasifikasi Koppen dinilai cocok untuk menganalisis serta menentukan jenis-jenis iklim di Indonesia. Hal ini disebabkan metode klasifikasi Koppen mendasarkan penggolongannya pada rerata suhu yang dapat menjadi parameter paling tepat untuk penentuan iklim. Dengan mengetahui rerata suhu, dapat diperkirakan bagaimana komposisi dan keadaan vegetasi daerah, dan curah hujan daerah sebagai penyebab perolehan rerata suhu, serta potensial evapotrasnpirasi dan efektifitas curah hujan untuk pertanian sebagai danpak dari rerata suhu yang diperoleh. Dengan demikian, berbagai karakter unsur iklim dapat diperoleh dengan satu metode saja.


























VI. KESIMPULAN
1.      Klasifikasi iklim dapat diperoleh dengan analisis data anasir iklim CH (curah hujan), T (suhu) dan h (ketinggian) dengan metode empirik.
2.      Dengan mengetahui klasifikasi iklim suatu tempat, dapat ditentukan pula jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan di tempat tersebut.
3.      Tipe iklim stasiun Karang Ploso (Batu Malang) menurut Mohr termasuk dalam golongan IV karena bulan kering (BK) terjadi selama 6 bulan secara berturut-turut.
4.      Tipe iklim stasiun Karang Ploso (Batu Malang) menurut Schmidt dan Ferguson adalah golongan D yaitu daerah sedang, vegetasi hutan musim.
5.      Tipe iklim stasiun Karang Ploso (Batu Malang) menurut Oldeman termasuk iklim golongan zona D sub divisi 3.























DAFTAR PUSTAKA
Bey, A dan Irsal, L. 1991. Strategi Pendekatan Iklim dalam Usaha Tani. Kapita Selekta dalam Agrometeorologi, Dirjen Pendidikan Tinggi.
Prawirowardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung Press, Bandung.
Saidja, A. 1982. Klimatologi. Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Sutarno, M.T. 1998. Klimatologi Dasar. UPN “Veteran” Press, Yogyakarta.
Sutrisno dan Sumiratno. 1983. Model Analisis Air Tanah. Prosiding Seminar Berkala Meteorologi dan Geofisika Desember 2 April 2003. Departemen Perhubungn Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.
Trewartha, G. T and L. H. Horn. 1980. An Introduction to Climate5 th edition. Mc Graw-Hill Book Company Inc, Madison.
Wisnubroto, S., Siti Leca, A., Mulyono, N. 1983. Asas-asas Meteorologi Pertanian, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Wisnubroto, S. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya, Yogyakarta.



0 comments:

Post a Comment

KOMISARIAT PERSIAPAN HMI AGROKOMPLEKS UGM
Powered by Blogger.

Recent Post

Total Pageviews

KOMISARIAT PERSIAPAN HMI AGROKOMPLEKS UGM